Ngembak Geni merupakan hari suci umat Hindu yang jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi, sebagai penanda berakhirnya pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Biasanya akan ada banyak tradisi setelah Nyepi berakhir. Contohnya Tradisi Mbed-mbedan di Kabupaten Badung. Seperti apa tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini?
Makna Tradisi Mbed-mbedan Desa Adat Semate di Bali

1. Tradisi Mbed-mbedan berasal dari Desa Adat Semate
Tradisi Mbed-mbedan berasal dari Desa Adat Semate, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi. Menurut Raja Purana Desa Adat Semate, Tradisi Mbed-mbedan dilaksanakan untuk menghormati bhisama (perintah) Mpu Bantas, dan mengenang berdirinya desa adat serta Pura Kahyangan Putih Semate.
Pada saat berdirinya Pura Kahyangan Putih Semate, terjadi tarik-ulur pendapat mengenai nama pura. Kemudian Mpu Bantas memberikan nama Pura Kahyangan Putih Semate, dan meminta warga untuk melaksanakan Tradisi Mbed-mbedan setiap tahunnya agar mengingat kejadian tarik-ulur pendapat tersebut.
2. Sejarah berdirinya Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Putih Semate
Seperti telah disebutkan di atas, Tradisi Mbed-mbedan ada kaitannya dengan sejarah berdirinya Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Putih Semate. Berawal dari perselisihan di Kerajaan Waturenggong. Satu anggota keluarga kerajaan tersebut memilih meninggalkan Kerajaan Waturenggong menuju ke tempat aman. Mereka adalah Sanak Sang I Gusti Pasek Gelgel.
Anggota keluarga ini memilih tinggal di sebuah hutan rimba yang dikenal angker, banyak ditumbuhi kayu putih di selatan Desa Kapal. Mpu Bantas datang ke hutan kayu putih tersebut, dan bertemu dengan warih Gni Jaya yang merupakan putra dari Ki Pasek Gelgel. Mpu Bantas memberikan saran agar membangun sebuah tempat pemujaan. Tempat pemujaan inilah yang saat ini bernama Pura Kahyangan Putih Semate.
Mpu Bantas memberikan nama Semate, yang bermakna warga telah memiliki keteguhan dan pendirian untuk tinggal sehidup-semati di tempat tersebut. Mpu Bantas kemudian memberikan nama Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Semate. Namun, sempat terjadi tarik ulur untuk menentukan nama tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang diadakannya Tradisi Mbed-mbedan. Mbed-mbedan sendiri memiliki makna saling tarik-menarik antara dua orang atau kelompok.
3. Pelaksanaan Tradisi Mbed-mbedan mirip dengan tarik tambang
Jika menonton pelaksanaan tradisi ini, maka akan terlihat seperti orang yang sedang melakukan tarik tambang. Tradisi ini dilaksanakan mulai pukul 09.00 Wita di depan Pura Puseh dan pura desa setempat. Pria maupun perempuan berkumpul untuk melaksanakan tradisi ini.
Tradisi Mbed-mbedan menggunakan tali dari tanaman yang disebut dengan bun kalot. Tanaman merambat mirip tali ini tumbuh di area kuburan Desa Adat Semate. Penggunaan bun kalot sudah dilakukan sejak pertama kali tradisi ini digelar.
Setelah para pemangku menghaturkan sarana upacara, tradisi ini langsung dimulai. Diawali dengan para pemangku pria maupun perempuan (istri dari pemangku pria), kemudian tarik-tarikan dilanjutkan oleh kelompok lainnya dari warga setempat. Kelompok warga ini akan saling tarik-menarik seperti permainan tarik tambang. Tradisi ini ditutup dengan makan bersama dan saling bermaafan. Tradisi Mbed-mbedan bertujuan untuk menjalin persatuan dan silaturahmi antara warga di Desa Adat Semate.
Tradisi Mbed-mbedan dimulai pada tahun Saka 1396, dan sempat terhenti pelaksanaannya selama bertahun-tahun. Pada 2011, tetua dan warga desa adat memutuskan untuk kembali melaksanakan Tradisi Mbed-mbedan.