Penulis: Community Writer, Ari Budiadnyana
Agama Hindu, khususnya kepercayaan masyarakat di Bali, gempa memiliki makna sesuai waktu kejadiannya. Hal ini tertuang dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi. Berikut makna gempa menurut Hindu Bali.
Penulis: Community Writer, Ari Budiadnyana
Agama Hindu, khususnya kepercayaan masyarakat di Bali, gempa memiliki makna sesuai waktu kejadiannya. Hal ini tertuang dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi. Berikut makna gempa menurut Hindu Bali.
Lontar yang memiliki panjang 30 centimeter dan lebar 3 centimeter ini terdiri dari 92 lembar. Masing-masing lontar terdiri dari empat baris. Lontar tutur ini disusun dalam bentuk teks menggunakan Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi.
Tokoh utama yang ditampilkan adalah Bhatara Druwaresi, yaitu pemimpin para dewa yang berstana di Sorga Surya Loka.
Pengertian roga adalah penyakit, sakit, dan cacat badan. Sedangkan sanghara atau samhara artinya menarik kembali, meniadakan, rusak, lebur, kehancuran, dan pembinasaan. Sedangkan bhumi berarti bumi. Jadi Roga Sanghara Bhumi berarti menetralisir atau meniadakan bencana di dunia dengan cara menjalankan upakara.
Secara garis besar, Lontar Roga Sanghara Bhumi membahas mengenai bencana-bencana dan tanda-tanda alam yang terjadi beserta upacaranya. Satu di antaranya tentang gempa bumi.
Lontar Roga Sanghara Bhumi menyebutkan tentang bencana alam gempa beserta pengaruhnya, yaitu:
Apabila terjadi bencana alam secara insidential dan masyarakat menginginkan kerahayuan jagat, maka menurut Lontar Sanghara Bhumi harus melaksanakan upacara:
Lontar Sanghara Bhumi menyebutkan, masyarakat Hindu di Bali, khususnya, harus melaksanakan Upacara Tawur Agung yang disebut dengan Panca Walikrama setiap lima tahun sekali. Upacara ini dilaksanakan di Pura Besakih, Kabupaten Karangasem.
Hal ini merupakan titah atau sabda dari Bhatara Putrajaya yang berstana di Gunung Agung. Jika tidak menghaturkan upacara tersebut, Bhatara akan kembali ke Gunung Mahameru, dan akan menebar bencana serta wabah penyakit.
Upacara ini memiliki tujuan untuk menghaturkan persembahan berupa jenis-jenis hasil bumi, yang dipersembahkan kepada para dewa dan bhutakala (Kekuatan jahat atau negatif).
Itulah makna gempa menurut Hindu Bali. Lontar Ronga Sanghara Bhumi berisi mitigasi bencana secara niskala melalui beberapa rangkaian upacara. Upacara ini memiliki tujuan untuk mengurangi dampat negatif dari bencana yang terjadi dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.