Ketenteraman Muriel Stuart yang sudah memiliki nama Bali, Ni Ketut Tantri, tidak bertahan lama. Setelah masa kolonial, Jepang mendarat di Indonesia. Ia melihat bagaimana kehadiran Jepang, dan kedatangan pasukan sekutu pascakemerdekaan Indonesia mengusik ketenteraman masyarakat di Bali.
Ia banyak berdiskusi tentang politik bersama Anak Agung Nura, saudara sulung angkat dari Ketut Tantri yang berkuliah di Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Heidelberg di Jerman.
Ia bersimpati dengan perjuangan Rakyat Indonesia, dan memutuskan untuk menuju ke Surabaya. Karena sikap kritisnya, Ia pernah ditangkap oleh tentara Jepang. Bukannya ditangkap karena sikapnya yang memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, ia justru ditangkap karena dianggap sebagai mata-mata Amerika.
Ia dijebloskan ke dalam penjara kumuh, beralaskan tikar rusuh, dan bantal dari merang yang sudah menjadi sarang kutu busuk. Jambannya juga hanya berupa lubang di tanah, dengan seember air kotor di sampingnya. Tantri hanya diberi makan dua hari sekali. Itu pun hanya segenggam nasi dengan garam. Hasilnya, berat badannya turun 5 kilogram dalam minggu pertama.
Kelaparan dan kotor adalah senjata andalannya Jepang kala itu. Ini ditujukan untuk mematahkan semangat para tahanan agar mereka mau memberi informasi yang dibutuhkan.
Ketut Tantri diinterogasi banyak hal tentang perjuangan "bawah tanah" yang dilakukannya. Namun Tantri tetap bungkam, berkali-kali disiksa, dan diancam akan dieksekusi. Namun ia tetap merahasiakan perjuangannya.
Hal itu membuat pejuang arek-arek Surabaya bersimpati dan berjuang membebaskannya. Suatu ketika kesehatan Ketut Tantri menurun selama di tahanan. Ia dikirim ke rumah sakit oleh tentara Jepang. Lalu Ketut Tantri berhasil dibebaskan oleh arek-arek pejuang Surabaya.