Penulis: Ufiya Amirah
Praktik feminisme yang elitis dan jauh dari kepentingan massa, serta membatasi perjuangannya pada isu identitas saja, atau biasa dikenal dengan feminazi, tanpa disadari telah memperkuat perilaku misogini sosial atas perempuan. Tak sedikit pula masyarakat yang memaknai feminisme tidak secara utuh, sehingga terjadi miskonsepsi.
Aktivis feminis dan anti apartheid asal Amerika, Gloria Jean Watkins yang biasa dikenal dengan sapaan Bell Hooks, dalam berbagai karya penanya, mencoba menjawab isu kontroversial seputar feminis. Ia memberikan perspektif baru tentang gerakan kesetaraan dan berusaha menyederhanakan konsepsi feminis agar lebih mudah dipahami khalayak.
Nah berikut 5 hal yang perlu kamu ketahui tentang gerakan kesetaraan atau feminisme dalam karya Bell Hooks, Feminisme untuk Semua Orang (2020).