Barong landung. (Commons.wikimedia.org/Alain Secretan (a.k.a. ASITRAC))
Rakyat Balingkang yang mencintai raja dan permaisurinya itu mendengar kabar Dewi Danu telah melenyapkan mereka. Rakyat Balingkang lalu membuat patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung ini kemudian dipercaya sebagai asal mula keberadaan Barong Landung.
Barong Landung selalu dibuat berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Sosok laki-laki digambarkan berwajah seram dengan taring yang besar, dan berwarna hitam yang biasanya disebut dengan nama Jro Gede sebagai simbol Raja Dalem Balingkang. Sedangkan sosok perempuan digambarkan bermata sipit, berwarna putih, jidat dan pipi menonjol, kuping lebar, terkadang juga digambarkan cemberut, serta memancarkan sinar keibuan. Barong yang perempuan biasanya disebut dengan nama Jro Luh.
Dari wujud Barong Landung itu terlihat bahwa adanya perpaduan budaya Tionghoa dan Bali sejak zaman kerajaan dulu. Selain itu, perpaduan lainnya dapat dilihat dari penggunaan sarana uang kepeng (uang bolong) dan adanya paham Siwa Buddha.
Barong Landung juga sebagai lambang Rwabhineda yang dalam istilah Tionghoa atau China dikenal dengan sebutan Yin dan Yang. Barong Landung hampir ada di seluruh Bali dan disungsung atau disembah sebagai Ida Sesuhunan di daerah tersebut.