Comscore Tracker

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah Hebat

Mereka tak banyak disebut dalam sejarah Indonesia

Indonesia pernah memiliki para tokoh laki-laki yang tercatat dalam sejarah perjuangan. Sebut saja Hayam Wuruk, Kertanegara, Jayabaya, hingga Mulawarman. Mereka adalah raja yang berhasil memimpin dengan baik.

Namun di tengah sistem patriarki yang kental, ternyata ada sejumlah perempuan yang pernah menjadi pemimpin tak kalah hebat dari raja-raja di atas. Mereka tak ragu untuk berperang, memimpin secara tegas, dan berhasil membuat kerajaannya berkembang pesat. Sebagian besar para perempuan ini tetap disebut sebagai raja, bukan ratu. Sebab itulah gelar yang disematkan kepada mereka.

Berikut ini deretan perempuan yang pernah menjadi raja di Nusantara. Mereka berhasil memimpin kerajaan lho:

Baca Juga: 5 Jenis Upacara Suci Umat Hindu di Bali, Maknanya Berbeda-beda

1. Inilah perempuan di balik Kerajaan Majapahit, Gayatri Rajapatni

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah HebatArca yang diduga merupakan Gayatri Rajapatni (wikimedia.org)

Meskipun namanya tak familier, Gayatri Rajapatni termasuk tokoh di balik berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia bersama suaminya, Raden Wijaya, punya ambisi untuk membangun pemerintahan baru dari sisa-sisa Singhasari. Kala itu kerajaan tersebut baru saja dibabat habis oleh Jayakatwang.

Menurut laporan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Gayatri memang tidak secara langsung menjadi raja. Tetapi ia berhasil mendidik anak cucunya untuk memimpin Majapahit hingga menjadi kerajaan yang besar. Di antaranya Tribhuwana, Gajah Mada, hingga Hayam Wuruk.

Gayatri dikenal sebagai "ibu suri" yang selalu memikirkan masa depan kerajaannya. Ia menolak naik takhta karena dirinya merupakan anak Raja Singhasari, Kertanegara. Pada saat itu ada hukum tak tertulis yang mengisyaratkan, bahwa seseorang yang telah kalah tidak boleh memimpin kembali, kecuali dengan alasan mendesak.

Baca Juga: 4 Pesan Bijak Tetua Bali yang Tidak Boleh Kamu Lupakan

2. Tribhuwana Wijayatunggadewi termasuk Raja Majapahit yang paling berpengaruh, terutama menaklukkan Bali dan Sumatra

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah HebatArca Tribhuwana Wijayatunggadewi (wikimedia.org)

Namanya sering disebutkan dalam sejarah, Tribhuwana Wijayatunggadewi. Ia adalah anak perempuan dari Gayatri Rajapatni dan mendapatkan mandat dari ibunya untuk memimpin Majapahit. Tugasnya adalah memperbaiki kerajaan setelah kekacauan yang disebabkan oleh Jayanegara.

Mengutip studi dari AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, Tribhuwana memiliki peran yang besar dalam perkembangan Majapahit, di antaranya:

  • Berhasil mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan Majapahit
  • Berhasil menaklukkan wilayah Sadeng dan Keta
  • Mengangkat Gajah Mada sebagai rakryan mahapatih yang menghasilkan program politik baru, yaitu Sumpah Palapa. Tribhuwana dan Gajah Mada bersama-sama ingin mempersatukan seluruh wilayah Nusantara
  • Berhasil menaklukkan Sumatra dan Bali lewat Sumpah Palapa.

3. Ratu Shima dikenal sebagai tokoh yang adil dan tegas dalam memimpin Kerajaan Kalingga selama sekitar 60 tahun

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah Hebatilustrasi Ratu Shima (cintapekalongan.com)

Ia juga menjunjung tinggi hukum dan tak ragu untuk menjatuhi sanksi kepada pelanggarnya. Itulah kenapa banyak rakyat yang patuh kepadanya.

Cerita tentang ketegasan Ratu Shima bergaung sampai ke beberapa negara. Kala itu, seorang Raja bernama Ta-Shih dari Timur Tengah ingin menguji kebenaran kisah tersebut. Maka pergilah raja ini ke Kalingga. Ia sengaja menjatuhkan kantung berisi emas di jalan untuk melihat apakah ada orang yang berani mengambilnya.

Ternyata di luar dugaan, kantung tersebut tetap berada di tempat semula sampai berbulan-bulan. Lalu Pangeran Narayana, anak dari Ratu Shima, tak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Sang ibu lantas hendak menghukumnya. Namun karena Narayana melakukannya tanpa kesengajaan, para pejabat setempat memohon keringanan supaya mengampuni sang pangeran.

Rakyat begitu menghormatinya karena ia mengajarkan kejujuran dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Sepeninggal Ratu Shima, kerajaan tersebut runtuh karena serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

Baca Juga: 10 Legenda Terciptanya Musik dari Berbagai Mitologi, Termasuk Hindu

4. Dyah Suhita, perempuan terakhir yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah Hebatpatung Dyah Suhita (wikimedia.org)

Majapahit sepertinya kerajaan yang paling sering dipimpin oleh perempuan. Selain Gayatri dan Tribhuwana, ada satu nama yang tak kalah populer. Yaitu Dyah Suhita atau yang dikenal sebagai Ratu Ayu Kencanawungu.

Ia pewaris takhta Majapahit ke-7 yang menjabat setelah Perang Paregreg. Suhita diangkat menjadi pemimpin ketika masih sangat muda, yaitu sekitar 20 tahun. Meskipun begitu, ia tak kalah cakap dari pendahulunya, yaitu Tribhuwana.

Suhita bersama suaminya, Ratnapangkaja, memerintah Kerajaan Majapahit sekitar 28 tahun. Di masa kepemimpinannya, Suhita berhasil menata kembali kerajaan yang sempat kacau setelah terjadinya perang saudara. Ia juga menggencarkan perkembangan sumber daya alam, mendirikan tempat pemujaan, candi, dan punden berundak.

Shuita adalah perempuan terakhir yang memimpin Majapahit. Sepeninggalan Suhita, tidak ada lagi perempuan lain yang menguasai kerajaan terbesar di Nusantara tersebut.

5. Sultanah Nahrasiyah, perempuan pertama yang menguasai Samudra Pasai

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah HebatSultanah Nahrasiyah (wikimedia.org)

Sultanah Nahrasiyah merupakan perempuan pertama yang pernah menjadi raja di Aceh, tepatnya Kerajaan Samudra Pasai. Kala itu ia menggantikan ayahnya yang bernama Raja Malikussaleh.

Sultanah Nahrasiyah membawa banyak perkembangan di kerajaan Islam tersebut. Kepemimpinannya menjadi era kejayaan di Samudra Pasai. Ia berhasil meningkatkan laju perdagangan, kesejahteraan rakyat, hingga memperjuangkan hak-hak para perempuan yang sering disepelekan. Ia sangat dihormati oleh penduduk setempat.

Dilansir Museum Nasional, kuburannya berisi nisan yang bertuliskan:

"Inilah kubur wanita yang bercahaya suci, ratu yang terhormat, almarhumah yang diampunkan dosanya, Nahrasiyah. Putri Sultan Zainal Abidin, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad, putra Sultan Malik As-Shaleh. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya. Mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin, 17 Dzulhijah 831 H/1428."

6. Dyah Tulodong, perempuan yang pernah memimpin Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 919-924

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah HebatCandi Mendut peninggalan Mataram Kuno. (wikimedia.org)

Namanya Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmatanuraga Uttunggadewa atau dikenal pula dengan nama Dyah Tulodong. Tak banyak cerita yang beredar mengenai Dyah Tulodong. Namun ia terkenal karena mampu menggagalkan ekspansi Raja Airlangga yang kalau itu telah menguasai wilayah di sekitar Mataram Kuno.

7. Sultanah Safiatuddin merupakan pemimpin Kerajaan Aceh setelah menggantikan suaminya yang meninggal

7 Perempuan yang Pernah Jadi Raja di Nusantara, Tak Kalah HebatSultanah Safiatuddin (wikimedia.org)

Karena tidak memiliki anak, maka Sultanah Safiatuddin diangkat untuk menggantikan takhta suaminya yang meninggal, yaitu Sultan Iskandar Tsani. Ia berhasil membawa Kerajaan Aceh berkembang pesat meskipun pemilihannya pernah menuai pro dan kontra. Masa kepemimpinannya bahkan disebut-sebut sebagai zaman keemasan Islam dan Melayu.

Alih-alih berperang dan berjuang di bidang militer, Safiatuddin mengandalkan taktik diplomasi untuk mengekspansi kerajaannya. Ia pandai membangun aliansi dengan wilayah lainnya. Ia bahkan pernah berhasil melindungi kerajaannya dari gempuran penjajah Eropa.

Mereka tak banyak disebut dalam sejarah. Meskipun begitu, andilnya cukup besar di kerajaan masing-masing.

Baca Juga: 7 Istri Nabi Muhammad SAW yang Paling Dikenal dan Berpengaruh

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya