Comscore Tracker

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di Bali

Ini semata-mata bukan untuk kenikmatan duniawi saja

Berhubungan seks merupakan kebutuhan biologis suami istri. Berhubungan seks sebenarnya bukan semata untuk kenikmatan duniawi. Melainkan keinginan untuk memperoleh keturunan. Karenanya, berhubungan seks atau senggama harus dilakukan secara benar dan baik.

Untuk memperoleh keturunan yang suputra (Baik), ada sumber lontar dalam ajaran agama Hindu di Bali yang membahas kapan sebaiknya melakukan hubungan suami istri. Lontar itu bernama Lontar Pameda Smara. Lontar ini membahas tentang pemilihan hari baik, sekaligus hari-hari yang harus dihindari untuk berhubungan seks.

Berikut ini hari baik berhubungan seks menurut lontar Hindu di Bali.

Baca Juga: Doa Memulai Pekerjaan Hindu, Jangan Lupa Bersyukur Ya

1. Keinginan untuk memiliki keturunan adalah bagian tujuan hidup manusia

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di BaliIlustrasi bayi. (Pexels.com/Benji Aird)

Dalam Agama Hindu, ada empat tujuan hidup manusia yang disebut Catur Purusa Artha. Antara lain Dharma yakni manusia harus memiliki prinsip kebaikan dan kebenaran yang menjadi pijakan untuk mengarungi lautan kehidupan. Setelah meletakkan dasar Dharma sebagai tujuan hidup yang pertama, kemudian kedua adalah Artha manusia mencari penghidupan dan kekayaan yang cukup untuk melanjutkan kehidupan.

Tujuan hidup ketiga adalah Kama atau keinginan. Kama merupakan sifat alamiah dari manusia. Siapa pun manusia yang hidup pasti memiliki keinginan atau harapan dan cita-cita yang ingin dipenuhi. Keempat adalah Moksa, yakni suatu kebebasan dari ikatan keduniawian untuk menjalani hidup yang lebih damai.

Memiliki keturunan adalah tujuan hidup ketiga manusia menurut ajaran Agama Hindu, di mana manusia ingin melanjutkan garis keturunan karena hidup terus berlanjut.

2. Hubungan seks bukan semata untuk kesenangan duniawi, namun untuk melahirkan keturunan yang suputra

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di BaliIlustrasi anak-anak (IDN Times/Ayu Afria)

Berhubungan seks bagi suami istri harus disadari bukan semata-mata untuk memuaskan kesenangan duniawi. Dalam ajaran agama Hindu, jika bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang baik (Suputra), maka berhubungan seks harus memiliki niat, etika, dan cara yang baik serta berlandaskan kebijaksanaan Dharma. Termasuk pemilihan hari baik pada saat melakukan persenggamaan.

2. Ini hari yang baik untuk berhubungan seks dengan harapan bisa mendapatkan keturunan yang baik

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di BaliPexels/Vidal Balielo Jr.

Aatu teks lokal Bali yang membahas pemilihan hari baik berhubungan seks adalah Lontar Pameda Smara. Hari yang dianggap baik untuk bersenggama menurut lontar tersebut yaitu Senin Umanis, Rabu Pon, dan Jumat Pon. Pada referensi lainnya, ada juga yang menyebut Sabtu Umanis dan Jumat Pahing.

4. Ini hari-hari yang harus dihindari untuk berhubungan seks

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di Baliilustrasi bayi (unsplash.com/Andriyko Podilnyk)

Jika ada hari baik, maka ada hari yang patut dihindari untuk melakukan sanggama antara lain sebagai berikut :

  • Saat hari kelahiran suami istri (Otonan)
  • Saat Hari Raya seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri, Nyepi, dan lainnya
  • Hari raya lainnya (Rerahinan) yakni setiap Rabu Kliwon, Sabtu Kliwon, Rabu Wage, Selasa Kliwon, Purnama, Tilem
  • Hari yang bukan hari raya seperti Selasa Pahing, Minggu Wage, Selasa Wage, Kamis Pahing, Purwani Hari, Purwani Bulan, Pati - Pata, Dagdig Krana, Luang, Pati – Paten, Kala Mrtyu, Kala Ngruda.

Baca Juga: Doa Memulai Pekerjaan Hindu, Jangan Lupa Bersyukur Ya

5. Tidak pada saat pembuahan saja, demi mendapatkan keturunan yang suputra, orangtua memiliki tanggung jawab untuk mendidik karakter anak setelah dilahirkan

Hari Baik Berhubungan Seks Menurut Lontar di Balipexels.com/EmmaBauso

Untuk memperoleh keturunan yang suputra, memang diperlukan landasan yang baik pada saat memulai pembuahan. Namun proses pembentukan anak yang suputra tidak berhenti sampai di situ saja.

Orangtua memiliki tanggung jawab yang besar untuk membentuk karakter baik setelah sang anak lahir. Dengan demikian, pasangan suami istri tak hanya sekadar ingin mempunyai keturunan. Namun lebih dari itu, keturunan yang ingin dimiliki adalah keturunan yang berkualitas.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya