Comscore Tracker

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di Bali

Hari Raya Kuningan di #Bali identik dengan warna kuning

Umat Hindu di Bali akan merayakan Hari Raya Kuningan yang merupakan rangkaian dari pelaksanaan Galungan. Kuningan jatuh pada 10 hari setelah Galungan atau tepatnya Sabtu Kliwon wuku Kuningan.

Perayaan Kuningan dan Galungan pada dasarnya sama, yaitu melakukan persembahan dan persembahyangan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta kebahagiaan. Namun ada beberapa perbedaan terkait tata cara persembahyangan dan sarana upacara yang digunakan. Berikut ini bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di Bali.

Baca Juga: 6 Tradisi Unik Galungan di Bali, Tak Sekadar Ritual Belaka

1. Pemujaan kepada Dewa Mahadewa sebagai simbol kemakmuran

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di BaliIlustrasi umat Hindu saat melakukan persembahyangan di pura. (unsplash.com/Aditya Nara)

Dilansir Bali.idntimes.com, Dosen Program Studi Agama Hindu di Universitas Hindu Indonesia (Unhi), I Kadek Satria SAG MPdH, dewa yang dipuja di Hari Raya Kuningan atau juga disebut Tumpek Kuningan adalah Dewa Mahadewa. Dewa Mahadewa merupakan simbol dan manifestasi kemakmuran yang identik dengan warna kuning.

Selain itu, pada Hari Raya Kuningan, umat Hindu menghaturkan persembahan kepada para leluhur. Persembahan ini untuk memohon perlindungan, kemakmuran, keselamatan, dan tuntunan ke hadapan Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sedangkan Hari Raya Galungan dimaknai sebagai kemenangan kebaikan (Dharma) melawan Adharma (Keburukan). Makna Galungan ini juga tertuang dalam Lontar Sundarigama berikut ini:

Buda Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan. Arahkan untuk bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Baca Juga: 10 Sifat Roh dalam Agama Hindu, Percaya Reinkarnasi Itu Ada

2. Menggunakan sarana yang berbeda dengan Galungan

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di BaliEndongan (kiri) dan tamiang (kanan). (YouTube.com/Kadek Yuni)

Walaupun masih bagian dari rangkaian perayaan Galungan, Kuningan menggunakan sarana upacara yang berbeda. Beberapa sarana upacara yang digunakan pada saat Kuningan antara lain:

  • Tamiang, berbentuk bulat dengan hiasan-hiasan di bagian pinggirnya, merupakan sarana paling khas dalam pelaksanaan Kuningan. Tamiang merupakan simbol tameng atau perisai yang memiliki makna sebagai perlindungan bagi umat dari gangguan kekuatan-kekuatan negatif
  • Endongan, berbentuk seperti tas atau kantong yang diberi gantungan, sebagai simbol perbekalan. Makna dari sarana ini adalah memberikan bekal bagi para leluhur ketika kembali ke Swarga Loka, dan sebagai bekal umat Hindu dalam menjalankan kehidupan ke depannya. Endongan berisi daun paku cemara, makanan nasi kuning dan lauknya, pisang, tebu, dan jajan tradisional
  • Ter, bentuknya mirip seperti panah, sebagai simbol senjata untuk kelengkapan perang. Perang ini dimaknai sebagai perjalanan hidup manusia layaknya menghadapi perang. Contohnya, perang melawan hawa nafsu yang memengaruhi seseorang, maupun perang melawan keadaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik
  • Tebog, sarana yang bentuknya mirip mangkuk kecil, sebagai tempat untuk menaruh sarana persembahan seperti nasi kuning, kacang-kacangan, daun intaran, daging calon (daging khas Kuningan), dan lainnya.

3. Prosesi menghaturkan sarana upacara tidak diperkenankan lebih dari jam 12 siang

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di BaliIlustrasi upacara adat di Bali. (pixabay.com/jovanel)

Ada kepercayaan di tengah masyarakat Hindu di Bali, supaya untuk tidak bersembahyang maupun menghaturkan sarana upacara untuk pada Hari Raya Kuningan melewati pukul 12.00 Wita. Umat disarankan untuk bersembahyang dan menghaturkan sarana upacara di pagi hari. Kenapa demikian?

Menurut Lontar Sundarigama, pada tengah hari para Dewata dan leluhur atau Dewa Pitara dipercaya kembali ke Swarga Loka. Ada juga kepercayaan, jika sembahyang lebih di atas pukul 12.00 Wita, akan dilangkahi oleh Sang Buta Koreng yang memberikan dampak kurang baik.

Kepercayaan dilangkahi oleh Sang Buta Koreng ini memang tidak ada sumber pasti yang membahasnya, namun sebatas kepercayaan masyarakat yang didapat secara turun-temurun.

4. Umat Hindu melaksanakan berbagai macam tradisi selama Kuningan

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di BaliTradisi Mekotekan di Desa Munggu, Mengwi, Badung. (YouTube.com/Detu Bali)

Sama seperti Galungan, tradisi-tradisi selama Hari Raya Kuningan pun ada, tergantung dari kesepakatan kelompok masyarakat atau desa adat. Tradisi yang biasanya dilaksanakan pada Hari Raya Kuningan, beberapa di antaranya:

  • Ngelawang atau berjalan berkeliling secara bersama-sama untuk menetralisir kekuatan negatif di suatu area atau desa. Ngelawang biasanya diikuti oleh Ida Sesuhunan berupa barong dan rangda. Tradisi ngelawang sering dilakukan oleh para pemuda atau anak-anak sebagai hiburan
  • Mekotek adalah tradisi yang sangat populer dari Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini menggunakan sarana tongkat panjang yang terbuat kayu. Tujuannya sebagai penolak bala dan memohon kemakmuran
  • Tradisi mesuryak di Desa Bongan, Kabupaten Tabanan. Masyarakat desa akan menghamburkan uang ke udara sambil mesuryak (berteriak bersama-sama) dalam suasana penuh kegembiraan
  • Tajen atau sabung ayam massal yang melibatkan masyarakat setempat, merupakan tradisi dari Desa Adat Klusa, Payangan, Kabupaten Gianyar.

Masih banyak tradisi lainnya yang dilaksanakan pada Hari Raya Kuningan.

Baca Juga: Makna Tradisi Ngelawang di Bali, Biasa Digelar Setelah Galungan

5. Sebaiknya membuatkan upacara kendaraan bermotor selama Kuningan

Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di BaliMembuatkan upacara untuk kendaraan bermotor. (dok. pribadi/Ari Budiadnyana)

Ada hal menarik dalam pelaksanaan Hari Raya Kuningan. Menurut I Kadek Satria SAG MPdH, sebaiknya masyarakat melakukan upacara untuk kendaraan bermotor di Hari Kuningan, bukan pada saat Tumpek Landep.

Sebab menurutnya, kendaraan bermotor adalah simbol dari kemakmuran. Sedangkan Hari Raya Kuningan juga identik dengan warna kuning sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Berbeda dengan Tumpek Landep, yang dilaksanakan untuk memuja Sang Hyang Siwa dan identik dengan warna merah sebagai simbol ketajaman serta kecerdasan. Beberapa masyarakat di Kabupaten Gianyar membuatkan upacara untuk kendaraan bermotor selama Kuningan.

Selesai prosesi upacara Kuningan, umat Hindu biasanya memanfaatkan waktu untuk berkumpul, bersantai maupun jalan-jalan bersama keluarga pada sore hingga malam hari. Kebiasaan juga dilakukan pada Hari Raya Galungan.

ari budiadnyana Photo Community Writer ari budiadnyana

Menulis dengan senang hati

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya