Comscore Tracker

Epidemik Berakhir Hanya Jika Tidak Ada Virus di Seluruh Dunia

Kasus COVID-19 di seluruh dunia mencapai 6,7 juta lebih

Jenewa, IDN Times - Juru bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar sangat hati-hati melakukan pelonggaran aturan jaga jarak. Otoritas terkait juga diminta untuk terus memperluas cakupan tes COVID-19 saat pelonggaran terjadi. 

Sampai hari ini, total kasus COVID-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 6,7 juta. Sebanyak lebih dari 390.000 orang meninggal dunia. Benua Amerika pun menjadi episentrum virus baru dengan tingkat infeksi harian tertinggi di Amerika Serikat, Brazil serta Peru.

1. Pandemik baru berakhir setelah virus corona tidak ada

Epidemik Berakhir Hanya Jika Tidak Ada Virus di Seluruh DuniaIlustrasi virus corona. (IDN Times/Mia Amalia)

"Soal peningkatan kecil [dalam kasus COVID-19], ya kami sudah melihatnya di berbagai negara di seluruh dunia--saya tak bicara spesifik soal Eropa--ketika lockdown dilonggarkan, saat aturan jaga jarak sosial dilonggarkan, terkadang orang-orang menerjemahkannya sebagai 'OK, ini sudah berakhir'," kata juru bicara WHO Margaret Harris, seperti dikutip Reuters.

Harris pun menegaskan bahwa asumsi tersebut keliru. "Ini belum berakhir. Ini belum berakhir sampai tidak ada virus di mana pun di dunia," tambahnya. Agar terhindar dari infeksi, WHO menyarankan agar masyarakat tetap melakukan jaga jarak fisik setidaknya satu meter, sering mencuci tangan serta menghindari menyentuh mulut, hidung serta mata.

Baca Juga: Unjuk Rasa George Floyd Diprediksi Picu Banyak Kasus Baru COVID-19

2. WHO minta mereka yang mengikuti protes di Amerika Serikat tetap melindungi diri

Epidemik Berakhir Hanya Jika Tidak Ada Virus di Seluruh DuniaPengunjuk rasa berjalan menyeberangi Jembatan Brooklyn saat melakukan protes atas kematian George Floyd di tangan polisi Minneapolis di Brooklyn, New York City, New York, Amerika Serikat, pada 4 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly

Salah satu yang menjadi kekhawatiran Harris adalah protes #BlackLivesMatter yang dipicu oleh kematian George Floyd di tangan polisi. Protes yang awalnya terjadi di Minneapolis menjalar ke berbagai kota di 50 negara bagian dan diikuti oleh puluhan ribu sampai ratusan ribu orang.

Kota-kota lain seperti London, Berlin, Tokyo sampai Auckland turut jadi lokasi protes sebagai bentuk solidaritas melawan rasisme dan kebrutalan polisi. "Kami jelas melihat semangat tinggi minggu ini, kami melihat orang-orang merasa perlu keluar dan mengekspresikan perasaan mereka," ucap Harris. "Kami meminta mereka untuk ingat agar tetap melindungi diri sendiri dan orang lain."

3. Virus corona mungkin takkan pernah pergi

Epidemik Berakhir Hanya Jika Tidak Ada Virus di Seluruh DuniaPejalan kaki memakai masker pelindung menyeberangi sebuah jalan saat pandemik COVID-19 di Seoul, Korea Selatan, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Hong-Ji/

Sementara itu, pada Mei lalu Dr Mike Ryan dari WHO mengaku sulit memprediksi kapan virus corona akan hilang. Bahkan, ia terbuka pada kemungkinan itu akan terus ada seperti HIV.

"Penting untuk membeberkan ini: virus tersebut mungkin akan jadi virus endemik lain di masyarakat kita, dan virus itu mungkin takkan pernah pergi," ujar Dr Ryan, seperti dikutip BBC.

"HIV tak pernah pergi--tapi kita sudah menerima virus itu," kata dia lagi, kemudian menambahkan bahwa tak ada yang bisa memprediksi kapan COVID-19 akan hilang. Namun, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus tak mau masyarakat pesimis. Ia menegaskan virus corona masih bisa dikendalikan asal ada upaya dan kolaborasi yang baik secara internasional.

"Lintasannya ada di tangan kita, dan ini adalah kepentingan semua orang, dan kita seharusnya berkontribusi untuk menghentikan pandemik ini," tuturnya dalam kesempatan yang sama.

Epidemiologis WHO Maria van Kerkhove menambahkan pentingnya bersabar agar bisa mengakhirinya. "Kita perlu punya pola pikir bahwa perlu beberapa saat untuk keluar dari pandemik ini," ucapnya.

Baca Juga: The Great Reset, Kontrak Sosial Baru Pasca Pandemik Corona

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya