Comscore Tracker

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat Udara

Mereka segera merilis temuan itu

Sudah lama penularan COVID-19 melalui airborne (Menular lewat udara) ini jadi perdebatan. Sebab selama ini penularannya digaungkan hanya melalui droplet (Percikan cairan seperti batuk dan bersin). Nyatanya, virus ini telah menyebar cepat hampir di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau yang sering dikenal sebagai World Health Organization (WHO) mengklaim penularan COVID-19 tidak lewat airborne, setidaknya dalam kondisi normal.

Namun beberapa para ahli di seluruh penjuru dunia menuntut WHO untuk mengubah pernyataan itu. Karena mereka menemukan bukti, bahwa COVID-19 bisa menular lewat udara. Dilansir New York Times dan berbagai sumber lain, berikut penjelasan selengkapnya:

Baca Juga: Ngeri, Ini Dia Foto Asli Virus Corona Ketika Menyerang Tubuh Manusia

1. WHO awalnya mengklaim bahwa COVID-19 mungkin airborne ketika ada aerosol di lingkungan sekitar

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat UdaraDébora F. Barreto-Vieira/Fiocruz

WHO membuat pemuktahiran resmi mengenai dugaan COVID-19 airborne, yang dirilis pada 29 Juni 2020 lalu. Berikut pernyataannya:

“Transmisi udara (airborne) dari virus penyebab COVID-19 mungkin terjadi dalam kondisi dan pengaturan di mana prosedur pembuatan aerosol (AGP) dilakukan,” tulis WHO. “Masih tidak jelas apakah aerosol yang dihasilkan oleh terapi nebulizer atau high-flow oxygen menular atau tidak, mengingat data masih terbatas.”

Sekadar diketahui, aerosol adalah partikel padat atau cair yang sangat halus di udara (fine particle). Contoh aerosol yang alami adalah kabut dan asap seperti asap rokok, parfum, hair spray, dan lainnya.

IDN Times pernah menghubungi Sidrotun Naim PhD MPA, seorang virolog dan analis kebijakan Indonesia Strategic Institute (Instrat) Bandung untuk memperjelas hal ini. Seperti ini pendapatnya:

"SARS-CoV-2 dianggap mungkin airborne sebagai kehati-hatian karena hasil eksperimen oleh New England Journal of Medicine (berlaku terutama di lingkungan medis). Tapi secara umum, SARS-CoV-2 tidak airborne. Kalau di rumah sakit, bisa kalau kena karena nasocomial (infeksi yang berasal dari rumah sakit)."

Menurut penilaiannya, WHO ingin mengatakan bahwa SARS-CoV-2 dapat menempel di udara yang mengandung aerosol. Mereka juga pernah memosting pernyataan melalui akun Instagram-nya, jika masyarakat tidak perlu khawatir dengan kemungkinan airborne. Droplet pasien dinilai tidak akan menggantung di udara dalam waktu yang lama. Sehingga tidak akan menginfeksi orang lain. Tetapi kini banyak peneliti mendapatkan temuan baru terkait penularan wabah ini.

Baca Juga: Bedanya Rapid Test, Swab dan PCR! Lebih Akurat Mana?

2. Para ahli akan merilis buktinya dalam publikasi ilmiah minggu depan, yang menunjukkan bahwa COVID-19 airborne

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat UdaraDébora F. Barreto-Vieira/Fiocruz

Dilansir New York Times, sebanyak 239 ilmuwan dari 32 Negara di dunia membuat surat terbuka kepada WHO pada Sabtu (4/7/2020). Isi surat terbuka itu menyatakan, WHO harus mengganti pernyataannya mengenai kemampuan airborne dari virus penyebab COVID-19 atau SARS-CoV-2.

Mereka menemukan bukti, bahwa tidak semua droplet dari bersin dan batuk langsung jatuh ke lantai. Masih ada partikel kecil yang melayang di udara dan bisa menginfeksi orang lain. Para ahli tersebut akan merilis buktinya dalam publikasi ilmiah minggu depan.

3. WHO menilai transmisi airborne memungkinkan terjadi, tetapi tidak ada bukti yang solid

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat Udararollingstone.com

WHO belum menyetujui surat terbuka yang diajukan oleh para ahli tersebut. WHO menilai belum ada bukti yang menjelaskan kemungkinan penularan lewat udara. Kepala teknis untuk pencegahan infeksi WHO, Dr Benedetta Allegranzi, mengatakan bukti tersebut tidak meyakinkan.

“Terutama dalam beberapa bulan terakhir, kamu telah menyatakan beberapa kali bahwa kamu menganggap transmisi airborne memungkinkan tapi yang jelas tidak didukung oleh bukti yang solid. Ada perdebatan kuat mengenai hal ini,” katanya dilansir New York Times.

Di satu sisi, konsultan WHO bersama sekitar 20 ilmuwan menyatakan bahwa pertimbangan organisasi tersebut tidak sesuai dengan sains. Para ahli meyakini SARS-CoV-2 bisa menular lewat udara dan menginfeksi orang yang menghirupnya. Terlepas dari seberapa besar ukuran droplet yang dikeluarkan pasien.

4. Sifat airborne pada COVID-19 berbeda dengan penyakit lainnya

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat Udara(Ilustrasi virus corona) IDN Times/Arief Rahmat

Ternyata sifat airborne yang dimiliki COVID-19 sedikit berbeda dengan pemahaman airborne kita pada penyakit lain. Dr Bill Hanage, ahli epidemiolog Harvard TH Chan School of Public Health menjelaskan perbedaannya seperti ini.

“Kita memiliki pemahaman transmisi airborne berarti droplet bergantung di udara dalam beberapa jam dan masih bisa menginfeksi kita, melayang di jalanan, melalui kotak surat, dan menemukan jalan untuk masuk ke rumah-rumah.”

Nyatanya hal itu tidak terjadi pada SARS-CoV-2. Semua ilmuwan menyetujuinya. Airborne COVID-19 yang dimaksud para peneliti adalah droplet pasien masih bisa menginfeksi orang lain yang berada dalam satu ruangan atau dekat dengannya. Terlebih dalam kondisi udara yang mengandung aerosol.

Jika kemungkinan airborne ini berperan signifikan dalam penularan, maka upaya pencegahannya harus diperketat. Ventilasi ruangan perlu dijaga agar pertukaran udara lancar, masker harus tetap dipakai di ruangan, bahkan dalm kondisi yang mendukung physical distancing sekalipun, dan para petugas medis wajib mengenakan masker N95.

Baca Juga: Cara Membuat Face Shield Sendiri, Bahannya Gampang Dicari

5. WHO menuai kritik pedas akan kemampuannya dalam mengomunikasikan pandemik

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat UdaraIlustrasi masker (IDN Times/Dwi Agustiar)

WHO mendapatkan banyak kritik dari ilmuwan. Karena dianggap tidak menerapkan assume for the worst” atau mengasumsikan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Ditambah pengetahuan tentang COVID-19 juga masih sangat terbatas.

Pernyataan WHO soal airborne COVID-19 sangat diperlukan agar menjadi “precautionary principle” atau prinsip berjaga-jaga. Jika upaya pencegahan yang dilakukan tidak sesuai dengan prinsip airborne, maka pandemik tidak akan pernah selesai.

6. Dapat kritikan WHO akan mengevaluasi bukti ilmiahnya secepat mungkin

Ratusan Ilmuwan Dunia Klaim COVID-19 Dapat Menular lewat Udara

Mendapat kritikan dari para ilmuwan, WHO mengaku menerimanya. Pihaknya akan mengevaluasi bukti ilmiah yang diajukan secepat mungkin tanpa mengorbankan kualitas review.

"Kami menganggap serius ketika jurnalis dan ilmuwan atau siapapun mengritik kami dan mengatakan bahwa kami bisa bekerja lebih baik daripada sekarang. Kami tentu ingin menjadi lebih baik," kata Dr Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan WHO.

Baca Juga: Virus Corona Pasti Tidak Airborne? IG dan Situs WHO Menyatakan Berbeda

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya