Comscore Tracker

Yurianto: Kita Tidak Akan Bisa Kembali ke Kondisi Normal

Perlu cara pandang baru agar bisa beradaptasi dengan virus

Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19, Achmad Yurianto, menegaskan situasi setelah pandemik COVID-19 tidak akan sama seperti dulu. Karena itu ia menegaskan perlunya cara pandang baru agar bisa beradaptasi dengan virus ini.

“Seluruh dunia pun juga sudah mengakui bahwa kita semua tidak akan bisa kembali ke kondisi normal seperti dulu sebelum ada pandemi COVID-19,” kata Yuri dalam keterangan pers yang dilansir dari TVRI, Minggu (24/5).

1. Masyarakat harus mulai membiasakan hidup normal baru

Yurianto: Kita Tidak Akan Bisa Kembali ke Kondisi Normal(Siswa harus mengenakan masker ketika berada di sekolah) Kantor berita Yonhap

Menurut Yuri, harus ada paradigma baru dalam melawan COVID-19. Masyarakat harus mulai membiasakan hidup normal baru dengan selalu melaksanakan protokol kesehatan seperti cuci tangan pakai sabun, jaga jarak fisik, pakai masker, dan menghindari kerumunan, serta mulai produktif kembali namun tetap aman dari COVID-19.

“Upaya normal yang baru ditujukan untuk memutus ini semua, kita sadari penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyebabkan gangguan pernapasan,” sebut Yuri.

2. Orang-orang yang perlu dipantau sebanyak 42.551

Yurianto: Kita Tidak Akan Bisa Kembali ke Kondisi Normalinstagram.com/sanglahhospitalbali

Imbauan ini sejalan dengan masih tingginya angka penularan virus corona. Hingga 24 Mei 2020, dengan menggunakan pemeriksaan RT-PCR dan TCM-TB, jumlah pemeriksaan spesimen sebanyak 248.555.

Hasilnya, terkonfirmasi positif sebanyak 22.271 orang, jumlah kasus sembuh 5.402 dan jumlah kasus meninggal 1.372. Ada pun wilayah terdampak meluas hingga 404 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi.

“Pekerjaan kita masih cukup berat, karena kami masih melakukan pemantauan di seluruh wilayah tanah air ini pada orang-orang yang perlu kita pantau sebanyak 42.551,” ujarnya.

3. Proses penularan masih tetap terjadi

Yurianto: Kita Tidak Akan Bisa Kembali ke Kondisi NormalSalah satu masyarakat ber-KTP luar Denpasar mengaku akan mengambil handphonenya yang diservis di Denpasar (IDN Times/Ayu Afria)

Sementara itu, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tercatat sebanyak 11.389 orang. Pihaknya mengimbau bahwa proses penularan masih terjadi, sumber penularan masih ada di tengah masyarakat. 

“Kita tidak bisa bergerak sendiri, kami berharap keluarga adalah basis perubahan perilaku secara mendasar. Mari jadikan keluarga kita keluarga yang aman dan terlindungi, sehingga kita bisa melindungi keluarga, orang lain, dan bangsa Indonesia,” tegasnya.

Baca Juga: Menkominfo: Idulfitri Jadi Momen Persiapan Berdamai dengan COVID-19

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya