Penyebar Hoaks di Medsos Alami Peningkatan Pasca Quick Count Keluar

#Pemilu2019 Please, jangan termakan hoaks ya. Kroscek dulu

Jakarta, IDN Times - Pemilihan Umum (Pemilu) serentak telah selesai dilaksanakan, Rabu (17/4). Sejumlah lembaga survei swasta juga telah mengeluarkan hasil quick count atau hitung cepat perolehan suara masing-masing pasangan calon (Paslon).

Namun kepolisian menyatakan akun-akun penyebar konten hoaks di media sosial mengalami peningkatan pasca keluarnya quick count.

Sekadar diketahui, sejak pukul 15.00 WIB Rabu (17/4), beberapa lembaga survei mengumumkan hasil quick count seperti Indobarometer, SMRC, Charta Politika, Poltracking, Indikator, dan Litbang Kompas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengungkapkan sejak Rabu malam, tim Cyber Polri telah berpatroli secara masif di media sosial untuk mengurangi penyebaran informasi hoaks tersebut.

"Memang ada tren peningkatan kalau biasanya patroli cyber itu sekitar 10 sampai 15 akun yang menyebarkan konten-konten bersifat provokatif, jam 21.00 WIB sampai jam 08.00 pagi ini ada tren peningkatan sekitar 40 persen," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (18/4).

Dedi menjelaskan, akun-akun tersebut menyebarkan konten hoaks yang bersifat provokatif dalam bentuk foto hingga video.

"Menyebarkan konten-konten, baik itu narasi, foto, video, voice yang bersifat provokasi, yang mengajak masyarakat untuk berbuat onar dan melakukan aksi, mengajak masyarakat juga untuk melakukan kerusuhan," kata dia.

Untuk itu, kata Dedi, Polri berupaya mengantisipasi melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Polri juga melakukan profiling dan mengidentifikasi akun-akun hoaks tersebut.

"Meminta akun-akun tersebut dilakukan take down dan pemblokiran, apabila sudah berhasil, akan dikomunikasikan lagi ke Kemenkominfo dan penegakan hukum adalah langkah terakhir untuk memitigasi akun-akun yang menyebarkan konten yang bersifat provokasi," ujar Dedi.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You