Jelang KTT G20, Bali Waspada Dampak Bencana Hidrometeorologi

Semoga tidak terjadi bencana lagi ya

Denpasar, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mewanti-wanti dampak cuaca ekstrem yang akan terjadi saat KTT G20 pada November 2022 mendatang.

Dampak musim hujan juga sudah mulai dirasakan pada bulan Oktober 2022. Dengan adanya potensi bencana ini, BPBD Bali mengaku telah melakukan sejumlah persiapan. 

Baca Juga: Bali Siapkan Skenario Penyelamatan dan Evakuasi saat Puncak G20

1. BPBD Provinsi Bali mewaspadai bencana di luar potensi gempa dan tsunami

Jelang KTT G20, Bali Waspada Dampak Bencana HidrometeorologiIlustrasi situasi cuaca di Bali pada Oktober 2022. (IDN Times/Ketut Sudiani)

Kalaksa BPBD Provinsi Bali, I Made Rentin, pada Selasa (11/10/2022), mengatakan bahwa melihat kondisi saat ini, BPBD Provinsi Bali, mewaspadai bencana di luar potensi gempa dan tsunami. Khususnya kewaspadaan terhadap bencana alam hidrometeorologi yang sedang berlangsung sekarang.

"Masyarakat tetap waspada. Kita masih menghadapi cuaca ekstrem untuk beberapa minggu ke depan. Bahkan BMKG me-warning. Rilis cuaca ekstrem akan berlangsung sampai dengan puncaknya akhir tahun 2022. Tentu sekitar November sampai Desember 2022," jelasnya.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat selalu mengikuti rilis resmi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga negara yakni BMKG dan imbauan dari BPBD. Dalam menghadapi kondisi ini, BPBD Provinsi Bali menyiagakan 3 hal, di antaranya personel SDM serta sarana dan prasarana di posko penanganan kebencanaan di Provinsi Bali.

2. Cuaca buruk menimbulkan banjir hingga tanah longsor

Jelang KTT G20, Bali Waspada Dampak Bencana HidrometeorologiEvakuasi korban jalan ambrol di Kabupaten Bangli. (Dok.IDN Times/Basarnas Bali)

Dengan adanya rilis dan perkiraan cuaca dari BMKG yang dikeluarkan bulan Agustus 2022 lalu, BPBD Provinsi Bali dan jajarannya di kabupaten dan kota berkoordinasi dengan semua stakeholder, di antaranya BMKG, Basarnas, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini di tengah-tengah masyarakat," ujar I Made Rentin.

Menurut Rentin, warning perkiraan cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh BMKG, sekurang-kurangnya akan memunculkan dampak, termasuk hujan lebat. Cuaca ekstrem ini ia sebutkan memiliki ikutan yang sangat banyak, di antaranya tanah longsor, pohon tumbang, dan angin puting beliung.

Selain itu juga mengakibatkan genangan air dan banjir. Bahkan di beberapa tempat yang ada senderan, tembok rumah jebol, termasuk jalan menjadi ambrol.

3. Kondisi Bali disebut masih relatif kondusif

Jelang KTT G20, Bali Waspada Dampak Bencana HidrometeorologiEvakuasi WNA dan WNI yang menjadi korban banjir di Denpasar dan Badung pada Sabtu (8/10/2022). (Dok.IDN Times/Basarnas Bali)

Sementara itu dengan adanya kejadian dampak bencana pada Sabtu (8/10/2022) lalu, yang menyebabkan adanya korban meninggal dunia, Rentin mengungkapkan bahwa kondisi Bali masih kondusif.

“Secara umum kondisi Bali relatif kondusif dan aman,” ungkapnya.

Seperti diketahui bahwa pada Sabtu lalu, hujan lebat yang mengguyur Provinsi Bali menyebabkan sejumlah bencara. Jalan ambrol di Kabupaten Bangli dengan korban meninggal dunia 3 orang. Kemudian di Kota Denpasar, satu orang korban terseret arus sungai.

Genangan air tinggi di beberapa daerah di Kabupaten Badung, seperti Seminyak dan Legian. Selain itu, juga banjir di Jalan Pulau Demak Kota Denpasar.

“Kami Tim respons cepat, tim reaksi cepat yang ada di BPBD Badung melakukan upaya evakuasi kepada penduduk, termasuk di dalamnya adalah wisatawan,” ungkapnya.

Topik:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya