Comscore Tracker

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum Disabilitas

Walau lulus S2, juga dipandang sebelah mata oleh perusahaan

Angkie Yudistia, sosok inspiratif yang kini menjadi inspirasi anak-anak millennials. Meskipun memiliki keterbatasan, ia berhasil membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang setara dengan orang lain pada umumnya. Perempuan berusia 32 tahun ini pun berjuang keras hingga akhirnya mampu mendirikan Thisable Enterprise sebagai wadah untuk mengatasi diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

Tidak hanya itu, pada 2019 lalu ia juga terpilih untuk menjadi Staff Khusus Presiden Indonesia. Saat ditemui dalam acara Indonesia Butuh Anak Muda pada Rabu (19/2) di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Angkie pun menceritakan bahwa perjuangannya mewujudkan kesetaraan bagi penyandang disabilitas tidaklah mudah.

1. Penyandang disabilitas tidak mendapatkan pendidikan yang baik

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum DisabilitasAngkie Yudistia saat diwawancarai usai tampil dalam acara Indonesia Butuh Anak Muda di Ciputra Artpreneur, Jakarta. 19 Februari 2020. IDN Times/M. Tarmizi Murdianto

Menurut Angkie, salah satu diskriminasi yang kerap dialami oleh penyandang disabilitas adalah tidak mendapat kesempatan yang sama dalam ranah pendidikan. Padahal, semua orang pada dasarnya berhak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak. Hanya saja, ada beberapa sekolah yang justru tidak memiliki fasilitas atau menolak anak-anak penyandang disabilitas.

"Banyak sekali sekolah-sekolah yang menolak penyandang disabilitas. Padahal, sebagai warga negara kita kan berhak mendapat pendidikan yang sama," kata Angkie.

"SDM itu bergantung dari pendidikannya. Namun, malah banyak sekolah yang tidak menerima kita. Akan tetapi, pasti ada sekolah yang mau menerima penyandang disabilitas. Untuk itu, kita harus berusaha keras menemukan tempat pendidikan tersebut," imbuhnya.

Ia menegaskan penolakan seperti ini akan berdampak buruk dan menimbulkan masalah dalam jangka panjang sebab kualitas SDM akan sangat bergantung pada pendidikan yang ia terima.

2. Gelar S2 tidak menjamin mudah mendapatkan pekerjaan

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum DisabilitasAngkie Yudistia saat diwawancarai usai tampil dalam acara Indonesia Butuh Anak Muda di Ciputra Artpreneur, Jakarta. 19 Februari 2020. IDN Times/M. Tarmizi Murdianto

Perempuan kelahiran Medan ini memiliki pengalaman pahit. Pasalnya, gelar pendidikan S2 yang ia miliki tidak dapat menjamin dirinya terbebas dari pandangan negatif. Angkie mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima beberapa penolakan karena adanya ketidakpercayaan orang atas kemampuan dirinya. 

"Sebagai seorang penyandang disabilitas, aku pernah sulit diterima kerja. Padahal kala itu aku sudah berstatus S2. Jadi, gelar pendidikan tinggi gak menjamin penyandang disabilitas mudah mendapatkan pekerjaannya," tuturnya.

Namun, dalam situasi tersebut, Angkie tetap bertahan dan berjuang hingga akhirnya kini menjadi salah satu sosok yang digandrungi anak muda. Baginya, salah satu cara untuk keluar dari kondisi tersebut adalah dengan berdamai dengan diri sendiri.

"Aku bisa bertahan dari situasi tersebut karena aku sudah berdamai dengan diri aku sendiri. Aku berusaha untuk tidak menuntut banyak orang atau banyak pihak untuk mengerti aku. Akan tetapi aku berusaha untuk menerima bagaimana masalah ini bisa terselesaikan dan mulai melihat bahwa sebenarnya ketika satu pintu tertutup masih ada pintu pintu lain yang terbuka. Jadi, coba aja terus melamar," ungkapnya.

3. Dimulai dari diri kita sendiri

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum Disabilitasinstagram.com/angkie.yudistia

Menurut Angkie, untuk dapat mengatasi diskriminasi terhadap penyandang disabilitas, teman-teman non disabilitas harus dapat membentuk lingkungan yang baik dan aman sebagai upaya dalam hal toleransi. Oleh karena itu, sebenarnya akses untuk menemukan kesetaraan dapat dimulai dari kita sendiri. Caranya, dengan menerima diri sendiri dan menerima orang lain serta memahami bahwa setiap manusia itu berbeda.

"Akses untuk menemukan kesetaraan itu dimulai dari diri kita sendiri. Caranya dengan menerima diri kita sendiri dan menerima orang lain, serta fakta bahwa setiap manusia itu berbeda-beda," kata Angkie.

Baca Juga: Kisah Nining Elitos, Buruh Pabrik Pejuang Kesetaraan 

4. Bangun Thisable Enterprise

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum Disabilitasinstagram.com/angkie.yudistia

Tidak mudah memang mengatasi diskriminasi di dunia kerja. Terlebih dengan keterbatasan ruang gerak para penyandang disabilitas, yang membuat mereka dianggap sebelah mata oleh beberapa perusahaan. Namun, dalam hal ini Angkie berusaha untuk menciptakan peluang dengan membuat sebuah wadah sosial bernama Thisable Enterprise yang telah dibentuk sejak 2011 silam. 

Wadah ini memberikan kesempatan bagi para penyandang disabilitas untuk mendapatkan pelatihan softskill dan hardskill agar mereka menjadi SDM yang unggul dan diminati perusahaan.

"Ketika sulit untuk mendapatkan kesempatan, aku berusaha untuk menciptakan kesempatan itu sendiri dengan membuat Thisable Enterprise. Ini bisa menjadi ekosistem untuk para penyandang disabilitas dalam membangun kepercayaan diri, hidup mandiri, dan meningkatkan keterampilan agar menjadi SDM yang mumpuni,"  terangnya.

5. Tengah perjuangkan dibentuknya Komnas Disabilitas

Angkie Yudistia Berjuang Bangun Ruang untuk Kaum Disabilitasinstagram.com/angkie.yudistia

Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016, seharusnya Indonesia telah membentuk Komnas Disabilitas. Namun, berselang 3 tahun lebih akan tetapi Komnas ini belum terbentuk juga. Oleh karena itu, saat ini Angkie tengah memperjuangkan agar Komnas ini segera terbentuk.

"Presiden pun mengetahui bahwa negara ini memiliki Komnas Disabilitas dan berusaha untuk menjalankan amanatnya itu. Hingga saat ini statusnya sudah ada di Sekretariat Negara, kita hanya bisa berharap 2020 ini Komnas Disabilitas akan segera terbentuk, walaupun sempat pending bertahun-tahun," ungkap perempuan yang juga menjadi Juru Bicara Presiden Bidang Sosial tersebut.

Baca Juga: Dedikasi Indrawati untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani
  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya