Comscore Tracker

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebas

Rangkul mereka, bukan dihujat maupun dikucilkan

Antusias masyarakat saat menyaksikan film Dua Garis Biru seakan membuka mata kita tentang potret kenyataan remaja masa kini. Beberapa faktor penyebab remaja mengalami fenomena seperti itu adalah lingkungan dan pergaulan. Dalam situasi seperti ini, orangtua mana yang menginginkan anaknya terjerumus dalam pergaulan bebas.

Ketika remaja melanggar norma dan 'kebablasan' dalam menjalin hubungan, maka orangtua turut menjadi korbannya. Menurut Komnas Perempuan, kekerasan seksual maupun seks bebas di kalangan anak dan remaja telah mengalami peningkatan sebanyak 14 persen dari tahun sebelumnya. Artinya, pelanggaran itu terus menanjak dari tahun ke tahun.

Menyakitkan pasti. Namun sebagai orangtua yang bijak, ada baiknya melakukan beberapa hal yang bisa menguatkan kembali kondisi anak remaja yang terlanjur mengalami seks bebas.

1. Marah itu pasti, kecewa itu wajar, tapi tak perlu lama-lama karena anak butuh dukungan

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebaspexels.com/Ana Francisconi

Setiap orangtua yang mengetahui kondisi anaknya sudah melanggar batas pergaulan tentu akan marah dan sedih. Hal ini sangat wajar, perasaan tak terduga, terkejut, dan tidak percaya, semua rasa campur aduk menjadi satu. Seakan masa depan tak lagi memihak pada si anak, hancur sudah berkeping-keping harapan dan cita-cita yang tengah dirangkai bersama. Kesal dan marah?

Tak apa, orangtua pun membutuhkan ruang dan waktu untuk menumpahkan emosinya. Shock itu normal, tapi tak perlu berlarut-larut karena ingat, anak butuh dukungan luar biasa dari orangtua atas semua kesalahan yang dilakukannya.

2. Dekati dan rangkul kembali si anak untuk menghindari diskriminasi

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebaspexels.com/Albert Rafael

Mereka butuh keberanian ketika mengakui segala kesalahan dan pelanggaran yang dilakukannya. Menghadapi situasi seperti ini jelas bukan persoalan yang mudah. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan pada sikap remaja. Peran orangtua mampu membangkitkan semangat dalam diri remaja, maka dekatilah dan jangan pernah menghindari anak karena alasan kesalahannya.

Perlu diketahui, remaja yang merasa dijauhi justru akan melakukan berbagai cara yang jauh lebih buruk lagi. Lakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan menyisipkan obrolan ringan seputar masalah yang sedang dihadapi.

3. Libatkan dalam diskusi keluarga, duduk bersama untuk mencari solusi terbaik

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebaspexels.com/pixabay

Ketika marah dan kecewa mereda, langkah selanjutnya yang harus dilakukan orangtua adalah mengajak anak untuk diskusi. Ciptakan suasana nyaman, maka anak akan merasa kehadirannya masih dianggap dan diharapkan.

"Saat mengetahui kenyataan seks bebas yang dilakukan anak, orangtua boleh saja marah karena itu sangatlah normal. Tapi, rajut kembali kondisi dan situasi yang rumit ini dengan mengadakan diskusi bersama keluarga. Ungkapkan bahwa kekecewaan itu tak akan pernah sirna kecuali anak mau belajar bertanggung jawab dan tak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Pecahkan permasalahan ini untuk menemukan solusi terbaik. Tanpa disadari, hal ini mampu mengembalikan kepercayaan diri remaja di tengah banyaknya komentar sana-sini yang kurang menyejukkan hati," kata psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani SPsi MSi, atau akrab disapa Nina saat berbincang dengan IDN Times di Bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (23/7). 

Baca Juga: 3 "Ritual" yang Menjelma Jadi Praktik Seks Bebas, Salah Satunya Ada di Indonesia

4. Pernikahan dini bukan solusi mutlak yang harus dijalani

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebaspexels.com/Blake Newman

Keputusan menikah muda saat mengalami permasalahan ini bukanlah suatu solusi mutlak yang harus dijalani. Orangtua harus bisa lebih jeli melihat kemungkinan yang akan terjadi. Karena pada dasarnya, melangsungkan pernikahan dini memiliki dampak yang kurang baik pada anak laki-laki maupun perempuan.

Misalnya, seorang remaja laki-laki belum siap secara finansial, artinya semua kebutuhan hidup setelah menikah akan menjadi tanggung jawab orangtua. Sedangkan pada perempuan, kondisi fisik maupun mental remaja masih belum siap menjalani perubahan hidup secara drastis.

"Kalaupun pernikahan dini tetap harus dilakukan, anak-anak ini harus mendapatkan pendampingan secara utuh dari dua belah pihak orangtua. Misalnya, dengan menjelaskan bagaimana kondisi dan situasi rumah tangga, peran masing-masing sebagai suami dan istri. Jadi ayah dan suami itu seperti apa, serta menjadi istri sekaligus ibu muda itu bagaimana," tambah Nina. 

5. Yakinkan bahwa kegagalan tak berhak mengubur masa depan, bangkitkan kembali semangat hidupnya

Bukan Dibiarkan, 5 Cara Orangtua yang Remajanya Alami Seks Bebaspexels.com/pixabay

Setelah remaja mengalami kegagalan akibat permasalahan ini, bukan berarti ia tak bisa lagi meraih masa depannya. Berikan kepercayaan diri kembali pada remaja, tumbuhkan semangat tinggi untuk melakukan perubahan yang mampu meredam semua tanggapan buruk dan persepsi lingkungan terhadap dirinya. Selain itu, orangtua sebaiknya tetap memberikan berbagai macam pilihan terkait masa depannya.

Misalnya, melanjutkan pendidikan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dialami saat itu. Jangan sampai membuat kesalahan berikutnya, yakni tidak melanjutkan pendidikannya. Seiring berjalannya waktu, remaja akan menyadari bahwa hidup ini butuh tanggung jawab yang harus diperjuangkan. Kegagalan adalah hal biasa, bukan berarti kita harus jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. 

Cobalah terapkan itu kepada bua hati atau adik-adikmu ya. Bukan menjauhinya, tapi bimbing terus mereka. Semoga bisa membantu, ya!

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya