TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

5 Kosakata Bahasa Bali Mirip Jawa Tapi Beda Arti

Gedang ternyata beda arti di Bali dan Jawa

Pexels.com/Kaushal Moradiya

Indonesia adalah Negara yang unik. Indonesia memiliki ribuan pulau, termasuk ribuan bahasa daerah. Berbagai bahasa daerah ini membuat Indonesia kaya akan perbedaan. Meski tak jarang perbedaan bahasa juga terkadang menimbulkan kesalahpahaman pada saat pertama kali mendengarnya. Misalnya ada satu kosakata yang sama, namun ternyata berbeda makna atau arti.

Perbedaan dalam persamaan kosakata ini juga terjadi di Bali dan Jawa. Sebenarnya Bahasa Bali dan Jawa cukup banyak kemiripan. Pun dengan artinya yang sama. Namun ada juga yang kosakatanya mirip, namun artinya berbeda.

Berikut 5 Bahasa Bali mirip Jawa tapi beda arti:

Baca Juga: 10 Bahasa Bali yang Mirip Jawa dan Artinya Juga Sama

Baca Juga: 10 Bahasa Bali Benda di Pasar, Bule Saja Mau Belajar

1. Sing dalam Bahasa Bali berarti tidak, sedangkan Bahasa Jawa artinya yang (Penghubung kata)

Foto hanya ilustrasi. (IDN Times/Wayan Antara)

Kata sing dalam Bahasa Bali dan Jawa ternyata berbeda makna. Jika sing dalam Bahasa Bali berarti tidak, maka Bahasa Jawa artinya yang (Penghubung kata).

Contoh kalimat:

Bali: Yen Made sing teka jani, Made sing ngidang medaftar masuk sekolah (Kalau Made tidak datang sekarang, Made tidak bisa mendaftar masuk sekolah)

Jawa: Bakso sing wenak iku kuahe gurih (Bakso yang enak itu kuahnya gurih).

2. Mbok dalam Bahasa Bali digunakan untuk menunjuk kakak perempuan, sedangkan dalam Bahasa Jawa digunakan menunjuk ibu atau nenek

IDN Times/Irma Yudistirani

Perbedaan makna selanjutnya adalah mbok. Dalam Bahasa Bali, mbok digunakan untuk menunjuk kakak perempuan, sedangkan Bahasa Jawa digunakan untuk memanggil ibu atau nenek.

Contoh kalimat:

Bali: Mbok Galuh ngelah adi muani telu (Mbak Galuh punya tiga adik laki-laki)

Jawa: Warunge Mbok Marni wes buka (Warungnya Bu Marni sudah buka).

3. Kirik dalam Bahasa Bali artinya entok. Tapi dalam Bahasa Jawa artinya anjing

Foto hanya ilustrasi. (IDN Times/Irma Yudistirani)

Selanjutnya ada kata kirik. Dalam Bahasa Bali, kirik artinya entok. Tapi kirik dalam Bahasa Jawa artinya anjing. Jauh berbeda ya artinya.

Contoh kalimat:

Bali: Kirik becik pisan angge lawar (Entok sangat bagus dipakai untuk lawar)

Jawa: Kirike Pak Joko ucul (Anjingnya Pak Joko lepas).

4. Gedang dalam Bahasa Bali berarti papaya. Tapi di Jawa justru bermakna pisang

ilustrasi buah pepaya (pexels.com/Any Lane)

Perbedaan makna lainnya juga ditemukan pada kosakata gedang. Gedang dalam Bahasa Bali berarti pepaya. Tapi di Jawa justru bermakna pisang. Buat yang pertama kali mendengarnya pasti salah paham.

Contoh kalimat:

Bali: Pang nyak tis basange, buah gedang daar (Biar perutnya terasa sejuk atau enak, makanlah buah papaya)

Jawa: Gedange Mbok Minah ojo dicolong yo (Pisangnya Bu Minah jangan dicuri ya).

Berita Terkini Lainnya