Comscore Tracker

Teknologi, Sains, dan Seni dalam Musik Digital

Meski lebih mudah, tetap harus kuasai bahasa musik lho! 

Surabaya, IDN Times - Anak-anak muda di Indonesia kini semakin banyak yang tertarik untuk menciptakan konten-konten kreatif ala digital. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya, termasuk di Amerika. MyAmerica Surabaya bekerja sama dengan Musicology membuat workshop bertopik musik digital di Konsulat Jenderal Amerika Serikat pada Jumat (21/2). 

1. Gabungkan teknologi, inovasi sains, dan kreativitas seni

Teknologi, Sains, dan Seni dalam Musik DigitalIDN Times/Abraham Herdyanto

Workshop ini sepenuhnya membahas bagaimana penggarapan musik lewat metode digital. Hans Dimas Satria dari Musicology mengenalkan berbagai alat serta software yang mendukung proses pembuatan secara digital. Ada soundcard, keyboard, software bernama FL Studio dan lain sebagainya.

“Ada hubungan yang kuat antara Amerika dan Indonesia dalam hal kerja sama. Amerika memiliki sisi cutting edge dan kami ingin menunjukkan teknologi kami tersebut untuk memperkuat hubungan ini. Dengan menggabungkan tiga elemen STEAM di workshop ini: teknologi, inovasi sains, dan kreativitas seni; kami melihat adanya keindahan yang bisa dimunculkan kepada orang-orang. Itu menjadi dasar hadirnya workshop ini,” ujar Angie Mizeur, public affairs officer Konjen Amerika. 

Baca Juga: Kamu Musisi? Cek 10 Aplikasi Pembuat Musik Terbaik untuk Android Ini!

2. Ciptakan suara gitar hingga gendang digital

Teknologi, Sains, dan Seni dalam Musik DigitalIDN Times/Abraham Herdyanto

Di dalam workshop itu, Hans menunjukkan bagaimana praktisnya menggunakan teknologi digital untuk membuat suatu lagu. Dia memperdengarkan kepada para peserta bagaimana musik digital bisa membuat beragam suara, termasuk suara gitar hingga gendang.

“Mereka yang tidak bisa bermain gitar pun bisa bermain gitar dengan mudah lewat teknologi digital ini,” ujarnya dalam sesi itu.

3. Perlu mengerti bahasa musik

Teknologi, Sains, dan Seni dalam Musik DigitalIDN Times/Abraham Herdyanto

Hans juga mendemonstrasikan bagaimana sampling suara dan ketukan itu bisa membuat orang susah membedakan mana musik yang dibuat secara analog dengan yang dibuat secara digital. Hanya saja menyelesaikan satu lagu itu tidak akan mudah, terlebih jika bukan seseorang yang baru di ranah musik.

“Kesulitan awal mereka yang baru belajar proses digital sebenarnya adalah bahasa musik. Bahasanya itu bahasa numerik. Ada bar, ada ketukan, ada birama. Sebenarnya lebih gampang, cuman pemahaman bahasa yang berbeda yang membuat susah. Apalagi kalau bukan orang musik,” terang pria yang banyak menghabiskan waktunya di Musicology Records tersebut.

4. Tetap harus belajar analog

Teknologi, Sains, dan Seni dalam Musik DigitalIDN Times/Abraham Herdyanto

Walaupun seseorang sudah bisa membuat lagu-lagu lewat suara instrumen yang tidak dikuasai, Hans tetap menyarankan untuk mempelajari alat musik. Menguasai satu, dua instrumen akan memudahkan mereka untuk memahami proses musik digital. Ditambah lagi itu akan menjadi proses latihan olah rasa yang baik.

“Kan nggak semua software itu dibuat sama seperti suara instrumen aslinya. Ada beberapa yang dibuat manusia, tapi ada beberapa yang juga tidak bisa dibuat di dalam mesin. Mau nggak mau harus belajar yang analog juga,” jelas Hans lebih lanjut saat ditemui usai acara.

Baca Juga: 7 Perangkat untuk Buat Musik dari Rumah, seperti Billie Eilish

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya