Comscore Tracker

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDI

Jangan anggap enteng ya semeton. Walaupun kamu tampak sehat

Surabaya, IDN Times — Jumlah pasien yang positif COVID-19 kini semakin tak terkendali, setiap hari kian banyak. Per Senin (20/4), pasien yang terinfeksi COVID-19 di Indonesia berjumlah 6.575 kasus dengan 582 orang meninggal dunia dan 686 orang sembuh. Dalam situasi seperti ini, semua orang berisiko untuk tertular atau menularkan. Terlebih semakin banyak hidden carrier alias orang tanpa gejala (OTG) di sekeliling kita.

Mengapa gejala COVID-19 tidak muncul pada sebagian orang, walau sudah positif terinfeksi? Berikut ini penjelasan dari Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K)., Koordinator Pelaksana Deteksi dan Pengobatan COVID-19 dan perwakilan IDI Jatim dalam program Healthy Lifestyle di Radio Suara Surabaya pada Senin siang (20/4).

1. Imunitas tubuh yang baik membuat gejala tidak muncul

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDIwildworkoutsandwellness.com

Ada sebagian orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2, tetapi tidak menunjukkan gejala sama sekali, bahkan yang ringan sekalipun. Orang ini disebut sebagai hidden carrier atau silent spreader yang bisa menulari secara diam-diam karena mereka tidak merasa sakit. Mengapa hal ini bisa terjadi?

"Orang yang terkena infeksi virus bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing. Jika daya tahan tubuh baik, maka gejala tidak akan muncul. Tetapi jika daya tahan tubuh tidak bagus, maka akan muncul gejala, mulai dari ringan, sedang, hingga berat," ungkap Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K).

2. Sebanyak 85-90 persen pasien positif mengaku tidak tahu tertular dari siapa

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDIIlustrasi (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Berdasarkan pengalaman Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K) dalam merawat pasien, ada 85-90 persen pasien positif COVID-19 mengaku tidak tahu tertular dari siapa. Sementara, 10-15 persen sisanya bisa menjelaskan mereka tertular dari siapa. Ini merupakan bukti bahwa hidden carrier berada di sekitar kita dan menularkan virusnya ke orang lain.

"Di luar negeri sudah terbukti, sekitar 20-25 persen mereka yang tidak bergejala itu positif COVID-19. Kalau tidak dites, tidak akan ketahuan karena mereka tidak menunjukkan gejala sama sekali. Orang tanpa gejala ini tidak datang ke tempat layanan kesehatan untuk memeriksakan diri karena merasa kondisinya fit," jelas dokter spesialis paru-paru ini.

3. Kita bisa tertular dari droplet, baik lewat bersin atau batuk maupun yang menempel di permukaan benda

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDIPexels/Andrea Piacquadio

COVID-19 menular melalui droplet atau percikan cairan tubuh. Droplet ini bisa menyebar melalui batuk, bersin, atau berbicara. Bahkan droplet yang mengandung virus bisa menempel di permukaan benda dan bertahan selama berjam-jam hingga berhari-hari.

"Penularan droplet secara tidak langsung sangat memungkinkan. Misalnya, ada droplet yang tertinggal di meja setelah makan atau di permukaan benda lainnya. Lalu, ada orang lain yang tak sengaja menyentuh benda dan kemudian menyentuh wajahnya dengan tangan yang mengandung droplet. Bisa jadi, orang ini akan tertular," tegas Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K).

Baca Juga: Meningkatkan Imun Tubuh dengan Vitamin A, Tangkis Virus dan Bakteri

4. Orang yang diam di rumah juga bisa tertular

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDIasccare.com

Meski seseorang terus berdiam di dalam rumah selama masa pandemi berlangsung, masih ada kemungkinan mereka tertular COVID-19. Bagaimana bisa? Kemungkinan besar, mereka tertular dari anggota keluarga lain yang tetap beraktivitas di luar rumah dan kurang disiplin dalam menjalankan physical distancing serta kurang menjaga higienitas diri.

"Ada banyak kasus di mana yang tertular adalah orang tua yang sudah sepuh hingga masuk ICU, sementara anggota keluarga yang berusia muda baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala apapun. Yang menularkan memiliki imunitas bagus sehingga merasa tidak terjangkiti virus dan tetap beraktivitas di luar rumah," terang Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K).

5. Perlu ada regulasi yang tegas agar masyarakat tidak meremehkan

Mengapa Orang Tanpa Gejala Bisa Positif COVID-19? Ini Penjelasan IDIDok.IDN Times/istimewa

Di beberapa negara di luar negeri, pembatasan jarak fisik (physical distancing) benar-benar dilakukan secara disiplin dan tegas. Jika seseorang nekat melanggar, maka mereka akan mendapatkan sanksi dari pihak berwajib. Edukasi mengenai bahaya COVID-19 harus disertai dengan regulasi yang tegas beserta sanksi yang diberikan bagi masyarakat yang melanggar.

"Mengapa saya mengatakan demikian? Karena teman-teman dokter dan paramedis sudah lelah. Hari ini merawat 20 orang, 2 orang sembuh, lalu besoknya kedatangan 5 orang yang sakit. Rasanya tidak ada henti-hentinya," ujar lulusan S3 dari Universitas Airlangga ini.

Menurut Dr. Soedarsono dr., Sp.P.(K), regulasi yang tegas berguna untuk menekan kasus. Hal ini sudah dibuktikan di negara-negara lain seperti Tiongkok. Apabila masyarakat disiplin dan ada regulasi yang tegas, kemungkinan besar kasusnya akan menurun.

Namun, kalau masyarakat masih berkerumun dan bergerombol seperti sekarang, kasus COVID-19 akan berlangsung lama. 

Pembaca bisa membantu kelengkapan perlindungan bagi para tenaga medis dengan donasi di program #KitaIDN: Bergandeng Tangan Melawan Corona di Kitabisa.com (http://kitabisa.com/kitaidnlawancorona)

Baca Juga: Masyarakat Diimbau Pakai Masker Kain, Masker Bedah untuk Tenaga Medis

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya