Comscore Tracker

Istilah ODP Hingga OTG COVID-19 Diganti yang Baru! Ini Penggantinya

Gimana pendapatmu guys?

Jakarta,IDN Times - Kini ada aturan baru terkait penanganan COVID-19. Mengutip dari situs resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 covid19.go.id per Selasa (14/7/2020), istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), hingga orang tanpa gejala (OTG) twlah diganti dengan yang baru.

Aturan itu termaktub dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020, Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Keputusan itu ditandatangani oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto, pada Senin 13 Juli 2010. Berikut ini pengganti istilah ODP hingga OTG COVID-19:

1. Ada istilah kasus suspek hingga pelaku perjalanan

Istilah ODP Hingga OTG COVID-19 Diganti yang Baru! Ini PenggantinyaMenteri Kesehatan (Menkes) dr. Terawan Agus Putranto IDN Times/Debbie Sutrisno

Perubahan definisi ODP, PDP, dan OTG dijelaskan pada Bab III Surveilans Epidemiologi. Yaitu menjadi kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, dan lainnya.

"Pada bagian ini dijelaskan definisi operasional kasus COVID-19, yaitu kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian. Untuk kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, kontak erat, istilah yang digunakan pada pedoman sebelumnya adalah Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG)," demikian seperti yang tertuang dalam aturan itu.

Baca Juga: Pakar Virologi Unud Prediksi Desember Kasus COVID-19 di Bali Meningkat

2. Berikut daftar artinya:

Istilah ODP Hingga OTG COVID-19 Diganti yang Baru! Ini PenggantinyaIlustrasi (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

1. Kasus Suspek

Seseorang yang memiliki satu dari kriteria sebagai berikut:

a. Orang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)* DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal**

b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19

c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

2. Kasus Probable

Kasus suspek dengan ISPA Berat/ARDS*/meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 DAN belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR

3. Kasus Konfirmasi
Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 yang
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR

Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua. Yaitu:
a. Kasus konfirmasi dengan gejala (Simptomatik)
b. Kasus konfirmasi tanpa gejala (Asimptomatik)

4. Kontak Erat

Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau
konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain:

a. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau
kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu
15 menit atau lebih
b. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi
(seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lainnya)
c. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus
probable atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai
standar
d. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat (penjelasan sebagaimana terlampir).
Pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (Simptomatik), untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala. Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (Asimptomatik), untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum. 
dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi.

Keterangan:

* ISPA yaitu demam (≥38oC) atau riwayat demam, dan disertai salah satu gejala atau tanda penyakit pernapasan seperti batuk, sesak nafas atau sakit tenggorokan, atau pilek atau pneumonia ringan hingga berat.

** Negara/wilayah transmisi lokal adalah negara/wilayah yang melaporkan adanya kasus konfirmasi yang sumber penularannya berasal dari wilayah yang melaporkan kasus tersebut. Negara transmisi lokal merupakan negara yang termasuk dalam klasifikasi kasus klaster dan transmisi komunitas, dapat dilihat melalui situs https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports. Sedangkan wilayah transmisi lokal di Indonesia dapat dilihat melalui situs https://infeksiemerging.kemkes.go.id.

Baca Juga: Biar Kamu Ingat, 10 Jenis Benda yang Membuat COVID-19 Bertahan Hidup

3. Berikut ini penjelasan lain dari istilah yang baru:

Istilah ODP Hingga OTG COVID-19 Diganti yang Baru! Ini PenggantinyaIlustrasi Pasien COVID-19 (ANTARA FOTO/REUTERS/Jose Luis Gonzalez)

1. Pelaku Perjalanan
Seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.

2. Discarded
Apabila memenuhi satu dari kriteria berikut:
a. Seseorang dengan status kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu >24 jam.
b. Seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

3. Selesai Isolasi
Selesai isolasi apabila memenuhi salah satu kriteria berikut:
a. Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi
b. Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengand minimal 3 hari setelah lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan
c. Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang mendapatkan hasil pemeriksaan follow up RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai kriteria selesai isolasi pada kasus probable/kasus konfirmasi, dapat dilihat dalam Bab Manajemen
Klinis.

4. Kematian
Kematian COVID-19 untuk kepentingan surveillans adalah kasus konfirmasi/probable COVID-19 yang meninggal.

Baca Juga: Ahli Virologi Unud: Dari Dulu Saya Bilang Airborne Tak Bisa Diabaikan

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya